Malam
itu suasana hutan cukup sepi, hanya terdengar suara siulan beberapa burung dan
derasnya air terjun Lembah Kahung. Naka
termenung sendirian di hammock yang
digantungnya di antara dua pohon meranti, sedang teman-temannya yang lain duduk
mengelilingi api unggun sambil asyik mengobrol satu sama lain. Hampir tiap
akhir pekan ia bersama teman-temannya sesama anggota pencinta alam di sekolah
menghabiskan waktu menjelajah alam, kadang menempuh perjalanan yang jauh, kadang
dekat.
Naka
masih teringat kejadian di waktu siang tadi selepas mereka pulang sekolah,
kejadian yang membuatnya patah hati. Ia melihat Naya, cewek yang ia suka,
berboncengan naik motor dengan seorang cowok. Naya, cewek pindahan asal Jogja ketika mereka kelas
XI IPS. Sosoknya yang cantik, pintar, murah senyum, supel, pentolan anak teater
pula. Ia sangat mudah dikenal, bisa dibilang ia salah satu anak yang populer di
sekolahnya. Saat itu ia hanya bisa tertegun dan terhenyak melihat
kejadian itu. “Tadi itu cowoknya bukan, ya?” terus
memikirkan sambil menatap ke langit yang gelap tanpa kehadiran bulan
dan bintang.
Minggu
sore, sehabis pendakian di Lembah Kahung, ia beserta anggota pecinta alam yang
lain pulang ke rumah masing-masing dan ia yang penasaran
berinisiatif besok menanyakannya pada Risa, teman sebangku Naya, soal cowok
yang membonceng Naya waktu itu.
Hari
itu, selepas upacara bendera, siswa-siswi kembali ke kelas masing-masing namun
Naka tidak mendapati Naya di kelas.
“Cha,” begitu
sapaan akrabnya. “Naya gak turun, kenapa?“
“Katanya sih sakit,
tumben-tumbennya nih nanya kabar Naya?“ kata Risa
sambil nyengir.
“Gak, kebetulan Geografi satu kelompok
ama Naya,“
“Oh, gitu?“ tersenyum.
“Btw, kalo boleh tau, Naya udah
punya pacar belum, Cha?”
“Hubungan pernyataan satu kelompok
Geografi dengan pertanyaan punya pacar atau belum itu maksudnya gimana, ya?” ejek
Risa sambil tertawa terbahak.
“Yaaah, gak ada hubungannya sih, cuman
nanya aja,“
“Masa sih? jarang-jarang
ada cowok nanyain tentang cewek apa ia punya pacar atau belum kalau gak ada
apa-apanya,” sekali lagi membuat Naka terpojok. “Gak, hari sabtu kemarin sehabis pulang
sekolah aku ngeliat si Naya jalan ama seorang cowok,” ucap Naka.
“Oh itu, ia emang
cowoknya Naya, namanya Reza.“
“Jadi ia emang
pacarnya Naya?“ kali ini dengan nada suara agak meninggi.
“Loh kok ampe
sebegitunya, Ka?“
Terbata-bata.
“Eeeh, cuman refleks aja kok.“
“Refleks apa
refleks, tapi jujur, aku gak terlalu suka juga ama
pacarnya Naya,”
“Kenapa emang?“ mulai penasaran.
“Ia itu cowoknya
posesif banget, lihat Naya dekat ama cowok aja langsung marah dan suka ngatur-ngatur
segala lagi!”
“Terus, Naya happy aja ama tuh cowok?“
“Entahlah, Naya emang
sering curhat ama aku, katanya sih cintanya ama Reza cuman setengah hati!”
“Setengah hati? terus setengah
hati yang lain?“
“Rahasia dong, aku gak mau ngecewain Naya,“ jawaban Risa tidak
memuaskan Naka.
“Lho kok pake
rahasia-rahasiaan? aku janji deh gak akan bilang ama yang lain,“ berusaha
meyakinkan.
“Boleh nanya ama
kamu gak, Ka?“
“Nanya apaan?”
“Kamu suka
ama,
Naya?“ tiba-tiba
langsung menembus bening bola mata Naka.
“Eeeeee, apa kamu
mengeluarkan pertanyaan ini
karena aku banyak nanya tentang Naya,“ mencoba mengelak.
“Gak juga, ya elah
jawab aja lah, apa susahnya sih,“
“Hmm, sebenarnya aku emang
suka ama Naya, tapi udah tau begini aku gak mau juga ngerebut
pacar orang,“ akhirnya jujur. “Eeeeh, tapi jangan bilang siapa-siapa lho ya!”
“Termasuk ama orangnya?”
“Eeeee, iya, please,”
“Saranku,
perjuangin cintamu dan nyatain aja perasaanmu ama dia Ka,“ kata Risa
kemudian
berjalan menuju kantin di mana teman-teman lainnya memanggil. Sementara
Naka hanya termenung sendirian memikirkan maksud dari perkataan Risa.
******
Besoknya Naya turun ke sekolah dengan muka masih tampak pucat. Hari itu mata
pelajaran Geografi di jam terakhir dan sebelum Bu Ratna masuk ke
kelas, bangku pun sudah disusun sedemikian
rupa, karena mereka harus duduk secara berkelompok. Selang
beberapa saat masuklah Bu Ratna yang disambut salam oleh seluruh siswa kelas XII
IPS.
“Hari ini
kita membahas soal-soal Try Out Ujian Nasional, silakan bergabung dengan kelompoknya
masing-masing,“ perintah Bu Ratna. Ada 8 kelompok yang masing-masing kelompok berisi 4 orang,
Naka kelompok 3 bersama Naya, Citra, dan Asti. Naka duduk di samping Naya saling
berhadapan dengan Citra dan Asti dan dipisah oleh meja. Citra dan Asti
melihat Naya yang tampak pucat, “Masih sakit, Nay?“ kata Asti.
“Iya
Nay, kelihatannya kamu masih pucat,” timpal Citra.
“Gak,
cuman efek sakit kemaren aja kok,“ sahut Naya.
Di
sebelah, Naka hanya menatap Naya, diam dan sesekali pura-pura memperhatikan Bu
Ratna. Selang waktu kemudian Naya terlihat memegangi kepalanya, “Kamu
kenapa, Nay?“ tanya Naka khawatir. Sementara Asti dan Citra yang duduk
berbalik menghadap ke depan mendengarkan penjelasan Bu Ratna sehingga mereka
tidak mellihat Naya.
“Kamu mau gak
nolongin aku, Ka?“ dengan wajah yang meringis kesakitan.
“Nolongin apa?“ tanya
Naka. Tiba-tiba tangan Naya memegang tangan Naka. “Boleh aku
megang tangan kamu sampai pelajaran ini selesai?“ tanya Naya pelan.
“Kalau itu bisa
membuat kamu lebih enakan gak papa, aku senang kok,“ tersenyum.
Sepanjang
pelajaran Geografi Naya terus memegang tangan Naka, walaupun
Naka sebenarnya tidak mengerti mengapa dia megang tangannya tapi hal itu
sungguh membuatnya bahagia.
“Ka, makasih ya
soal yang tadi, sekarang aku lebih enakan,“ setelah pulang.
“Oh sama-sama, aku
senang kok, tapi kenapa kamu ngelakuin hal kayak tadi?“
Menghela napas “Gak papa, cuman entah
kenapa agak lebih enakan aja,”
“Oh ya udah, kamu les, Nay?“
“Les kok, aku
pulang dulu mau makan,“ kata Naya. Sementara Adit teman Naka bingung melihat Naka dan Naya mengobrol
serius.
“Ngobrolin apa sih, Ka? “ menatap sinis.
“Gak papa kok, yuk
kita pulang ganti baju dulu,“ mengalihkan
pembicaraan.
Siangnya
ketika les mata pelajaran Sosiologi, Pak Kusnan memberikan penjelasannya
tentang hubungan antar individu dan antar kelompok di dalam bermasyarakat. Sementara
Naka memikirkan hal yang lain, “Hari ini les Sosiologi, biasanya kalau Pak Kusnan yang ngajar gak terlalu lama,“ gumam Naka sambil
melihat Naya yang duduk samping belakang.
“Sampai di sini dulu
pembahasan kita, nanti kita sambung lagi minggu depan,“ kata Pak Kusnan.
“Iya paaaaaaaaak,“ serentak
semuanya. Setelah itu Pak Kusnan pun keluar.
“Wah, kita cuman les 30 menit aja, gokil
banget!“ kata Adit kegirangan.
“Dasar! Adit… Adit… , udah
datang terlambat, bangga banget lagi karena lesnya bentar doang! “ kata Mitha seolah
sinis.
“Gak papa dong, bilang
aja kamu juga senang lesnya juga bentar, yeee“ ledek Adit.
“Gak juga kok,
kitakan bentar lagi Ujian Nasional jadi harus banyak bahan lagi buat
itu” tidak mau kalah.
Ditengah
obrolan Adit dan Mitha, tiba-tiba mereka melihat Naya menundukan
kepala ke atas meja. Adapun yang lain sudah keluar kelas.
“Kamu kenapa, Nay? sakit
lagi ya?“ kata Risa.
“Naya kenapa, Cha?“ tanya Mitha datang menghampiri.
“Aku juga gak tau,“ kata Risa. “Aku gak
papa kok, cuman pusing doang,“
Risa yang melihat Naka langsung
berujar “ Ka, kamu bisa nganterin Naya?”
“Bisa-bisa, bentar aku ngambil motor
dulu di parkiran,”
“Nay, kamu pulang ama Naka ya, kalau masih sakit
besok gak usah turun dulu, gak usah dipaksain, sehatin badan kamu, biar nanti aku yang
bilang ama Bu Guru,“ kata Risa. Beberapa saat kemudian, “Nay!“ mempersilahkan Naya
naik ke motornya.
Di
perjalanan pulang Naya hanya diam dan tangannya melingkar memegang erat Naka,
dan selang beberapa saat sampailah mereka di kostnya Naya. Di luar terlihat
salah satu teman sekost Naya sedang menyiram bunga.
“Ada apa Kak?
kenapa dengan Kak Naya?“ kata teman Naya cemas.
“Ia harus lebih
banyak istirahat lagi,“ sahut Naka.
“Oh iya, kenalin ini Zahra, dan Zahra
ini Naka,” pelan.
“Salam kenal, Kak Naka,” sahut Zahra
bersalaman dengan Naka.
“Iya
salam kenal juga Zahra, Oh ya kalau gitu aku pulang dulu ya, Nay.“ tiba-tiba tangan Naka ditarik Naya.
“Antar aku sampai
ke dalam ya, Ka,“
Naka
mengangguk.
“Nay, saranku
banyak-banyak istirahat dan jangan sampai gak makan, entar
nambah sakit lagi,“ sambil berjalan pelan diikuti Zahra di samping Naya.
“Makasih banget udah
nganterin Kak Naya, Kak,“ kata Zahra.
“Aku senang kok,“ Naka
melihat Naya yang tersenyum.
“Ka, kalau
besok aku gak turun dan ada ulangan mendadak lusanya
bilangin
aku ya, supaya aku dapat belajar terlebih dulu,“
“Pasti Nay, tetapi
yang terpenting sekarang jaga kesehatanmu agar cepat sembuh,“
menyakinkan Naya.
“Oh ya, aku pulang dulu, kamu beruntung punya teman di kost yang sayang ama kamu,
cepat sehat Nay,“ melirik Zahra yang tersipu malu.
“Sekali lagi makasih
udah dianterin,“
“Sama-sama.” dan Naka
kemudian mengucap salam lalu pergi.
******
Keesokan harinya Naya tidak turun karena masih sakit dan ia menitipkan
suratnya dengan Zahra.
“Kak, ini
surat dari Kak Naya,“
“Kak Nayanya masih
sakit, Dek?” kata Nadin yang menerima surat.
“Ya Kak, kemaren malam kak Naya
beberapa kali
muntah,“
“Sampai
muntah-muntah? separah itu, kah?“
“Tapi hari ini kak Naya
mau berobat ke dokter ditemenin ama Bu kost,“
“Iya sudah, makasih ya,“
“Iya, Kak.“ sambil
berjalan menuju kelasnya.
Naka yang baru datang dan mendengar kabar seperti
itu langsung terperangah.
“Beneran, Nad?“
“Beneran, tadi barusan
si
Zahra bilang ama aku,“
“Kemarin pas aku
nganterin emang terlihat masih lemah sih,“.
“Tapi hari ini dia
pergi berobat ke dokter ditemenin bu kost katanya,
Waktu
seakan cepat berlalu, jam menunjukan pukul 14.00 bel sekolah pun berbunyi pertanda pulang.
“Aku harus jenguk Naya,“ gumam Naka sambil cepat
berjalan menuju parkiran.
Melihat Naka terburu-buru “Kamu mau
kemana,
Ka? hari ini lesnya dipercepat, kata ibu lesnya langsung setelah bel pulang sekolah,“ tanya Nadin.
“Bentar aja kok,“ seakan tidak
peduli. Naka langsung tancap gas ke kostnya Naya
yang kebetulan jaraknya cukup dekat dari sekolah. Dan
sesampainya disana, “Assalamualaikum,“
“Waalaikum salam,“ sahut seorang cewek dari dalam dan kemudian membukakan pintu.
“Hei, Nayanya ada, Ra.“ melihat yang
membukakan pintu si Zahra yang terlihat juga baru pulang sekolah.
“Oh Kak Naka, masuk Kak, Kak Nayanya
di kamar,”
Dijumpainya Naya yang sedang
terbujur lemah di kamar. “Gimana kabarmu, Nay? aku dengar kabar kurang enak dari Zahra pagi tadi,“ Dibantunya
Naya yang ingin bangun dan duduk bersandar dengan bantal di atas ranjangnya.“Udah
agak sehatan kok, kamu gak les, Ka?”
“Gak taulah, kalau sempat nanti ke sana, tapi katanya
lesnya langsung habis pulang sekolah,”
“Oh
gitu,” dipanggilnya
Zahra, "Ra, bisa minta tolong, buatkan satu gelas minuman buat Kak Naka?”
“Siap, Kak!” Kak Naya gak
minum?” sahut Zahra dari belakang.
“Gak usah Ra, buat Kak Naka
aja satu.”
“Ok. Kak Naka mau minum
apa?”
“Oh ya, kamu mau minum apa,
Ka?" tanya Naya. "Gak usah, Nay...."
"Gak apa-apa lagi." Naya tersenyum. "Ya udah
apa aja, deh."
Kemudian
Zahra masuk ke kamar, “Ini minumannya Kak, maaf cuman teh manis,”
“Gak
papa lagi, makasih lho, Ra”
“Oh ya, sekalian aku mau pamit ke sekolah dulu ikut PMR, Kak
Naka nemenin
kak Naya, kan?”
“Iya,” sahut Naka.
“Aku pergi dulu ya, kak Naya
dan kak Naka, Assalamualaikum,“
“Waalaikumsalam, hati-hati!“
Suasana
sekitaran kost lumayan sepi, kebetulan letaknya berada di ujung komplek. Kostnya
nyaman dengan kamar dan dapur yang cukup luas, kost itu diisi tiga orang; Lia, Zahra,
dan Naya sendiri, Lia teman satu angkatan akan tetapi beda sekolah sedang Zahra
adik kelas mereka. Adapun rumah Bu Kost mereka tinggal tepat di samping kost.
“Boleh
aku nanya, Nay?“
“Iya,
Ka?”
“Kamu
sebenarnya sakit apa?”
“Gak
papa, kecapean aja kok, soalnya seminggu terakhir aku agak disibukan ama
persiapan anak-anak buat lomba pentas teater di Taman Budaya nanti,”
“Kalau
cuman kecapean gak sampai pucat banget kaya kemaren dan kaya sekarang kali,
Nay.”
“Hmm,” sejenak berpikir. “Tapi
kamu harus janji gak akan bilang siapa-siapa ya, Ka?” Naka pun mengangguk dan
terlihat serius menyimak. Ditariknya nafas dalam-dalam, “Aku divonis
mengidap kanker otak sejak 3 bulan yang lalu.” ucap Naya.
Suasana hening beberapa saat.
Bagai
tersambar petir di siang bolong, Naka jeda beberapa detik menelan ludahnya,
bibirnya terasa beku sesaat dan sulit digerakan kembali. Terasa kering dan
retak begitu cepat, ada rasa iba yang menyelimuti jiwa dan raganya. “Jadi kamu
menderita kanker otak sejak 3 bulan lalu? Terus proses pengobatannya gimana, Nay?”
Tiba-tiba ingatan
itu hadir dalam sebuah keutuhan sekejap, ingatan 3 bulan silam di mana ia yang
waktu itu tidak percaya atas apa yang terjadi pada dirinya.
"Naya,
saya harap kamu tabah mendengar kabar ini. Kamu positif mengidap penyakit
kanker otak," ujar Dokter Andre yang menanganinya waktu itu.
"Saya belum
mau mati, Dok!" ungkap Naya dengan mata berkaca-kaca kemudian dipeluk
ibunya sambil terus menangis. "Kamu harus punya semangat Nay, Kabar baiknya
adalah, kanker kamu masih dalam tahap stadium satu, kamu masih bisa menjalani pengobatan,"
ucap sang Dokter.
Tanpa terasa
airmata Naya kembali tumpah begitu saja, bisa dikatakan setelah sekian lama
menahan setiap gejolak perasaan, baru kali ini bisa ditumpahkan semuanya. Ingin
rasanya menggigit lidahnya dengan kencang dan berharap tidak ada rasa sakit sedikit
pun karena ia berharap ini hanya mimpi di siang bolong. “Nay, kamu harus tetap
semangat dan tetap terus menjalani pengobatan itu,” kata Naka mencoba menguatkan
Naya.
“Katanya memang bisa
diobati tapi dengan kemoterapi, terdapat dua kemungkinan ,bisa
sembuh atau malah tambah parah, aku gak mau nyusahin ibuku kalau nanti operasinya gagal, yang ada malah nambah
derita orang ibuku,“ dijawabnya dengan suara serak.
“Tapi kalau
berhasil?” sembari meraih pelan tangan Naya. “Nay, Sesuatu hal itu
perlu dicoba dan aku yakin kamu akan sembuh, seringkali yang membatasi kemungkinan-kemungkinan
besar dalam hidup ini adalah diri kita sendiri. Kamu ragu, sehingga kamu gak lihat
peluang-peluang itu lagi, dan apa kita tahu rencana Tuhan?” berusaha meyakinkan
Naya.
“Aku gak mau
jalani hari-hariku di rumah sakit, aku ingin bebas, Ka“
“Iya, setelah itu kamu akan sehat
dan akan jauh lebih bebas, tanpa ada rasa takut akan hal buruk datang, Nay”
“Mungkin nanti setelah kita Ujian
Sekolah akan kulakukan, Ka,”
“Hmm, apa ada hal lain, semacam
ada yang kamu pikirkan?“
“Gak ada,” dengan ekpresi datar.
“Yaaah, aku memang bukan ahli soal
baca pikiran orang tapi entah kenapa aku merasa ada hal yang sedang membebani
kamu,”
“Hmm, sebenarnya aku males cerita
tapi karena kamu ada punya feeling seperti itu
ya sudah,”
“Ya sudah apa, Nay?”
“Aku baru aja diputusi oleh pacarku, ia
katakan bahwa udah gak mencintaiku dan udah dapat penggantiku tetapi walaupun begitu kami emang udah
sering bertengkar sebelumnya dan mungkin itu salah satu
alasan yang mengakibatkan ia meninggalkanku,“
“Ia
tahu kamu sedang sakit, Nay?”
“Gak,”
“Kok
bisa, Nay?”
“Aku
hanya kasih tahu ama orang yang bisa kupercaya, Ka”
“Apa baru sekitar
beberapa hari yang lalu, selepas pulang sekolah, ia
mutusin kamu?” tanya Naka.
“Kok kamu bisa
tahu,”
“Iya, waktu
itu
sepulang sekolah aku melihat kamu jalan ama seorang cowok, jadi
kupikir mungkin aja hari itu,“
“Oh iya, di
ngajakku jalan katanya ingin mengatakan sesuatu dan ternyata mau mutusin
aku, tapi….”
“Tapi apa, Nay?” Tanya Naka.
“Bukan hal
itu yang membuatku sedih?”
“Terus, kalau bukan hal itu, lalu?”
“Faktor keluarga yang membuat
hatiku gundah, karena keluargaku sudah memberi restu hubungan kami, dari awal berhubungan
kami emang sebenarnya gak terlalu cocok, tapi karena ibuku dan ibunya berteman
sejak lama jadi aku gak ingin nolaknya,“ seolah pasrah.
“Hmm, pacar kamu itu sekolah di sini juga?“
“Mantan!“
memperjelas.
“Oh, iya,“ tersenyum
simpul.
“Ia udah kuliah,“
“Oooh, terus sekarang, mama kamu
tau kalau kamu putus?“
“Belum, mungkin nanti kucoba
bicara ama mama,”
Setelah beberapa lama mereka
berbincang datanglah teman Naya, Lia.
“Assalamualaikum.“
“Waalaikum salam.“ jawab mereka.
“Berduaan aja
nih,”
sindir Lia. “Duh ganggu aku ya?“ melihat Naka yang termangu melihatnya datang. Naya
hanya tersenyum mendengar ocehan Lia. “Oh iya Ka, ini Lia dan Lia ini Naka,” mereka
bersalaman.
“Kamu dari
mana,
Lia?” tanya Naya.
“Abis nemenin Wulan ke
Gramedia, katanya mau nyari novel buat diresensi, udah
makan kamu, Nay?”
“Udah kok, kamu?”
“Udah, tadi ama Wulan ,“
“Nah karena udah ada
Lia disini, aku pulang dulu ya,” Naka pamitan.
“Thanks udah nemenin Naya di mari, kapan-kapan
datang aja lagi,“ kata Lia, sementara Naya hanya tersenyum. “Makasih udah
dijenguk,” ucap Naya.
“Siap!”
Naka pamitan lalu beranjak keluar.
Setelah
itu Naka pun pulang dan sepanjang jalan pikirannya kalut tak karuan, hatinya
seakan teriris melihat kenyataan Naya mengidap penyakit seperti itu. Sementara
di kamar kost Naya, Naka pun jadi topik obrolan antara Naya dan Lia.
“Eh, ngobrolin apa aja
kamu ama Naka, Nay?“
“Aku ngomong ama dia
tentang penyakitku, dan aku juga ngomong kalau aku putus ama Reza,“
“Naka itu kayaknya orangnya
baik,
sepertinya dia sosok yang sangat tepat buat kamu,“ memberikan segelas air putih ke Naya. “Great
Expectations
from Charles Dickens,” kata Lia
melihat buku yang tergeletak di pangkuan Naya. “Kamu tentu punya harapan besar
dengan baca buku itu kan, Nay?”
“Entahlah, tapi aku sepertinya gak pernah
berharap. Lagi pula ceritanya bikin aku gak berani berharap apa pun.” ucap
Naya.
“Tuhan bilang, kalau kita
meminta, maka kita mendapat,”
"Tapi...."
"Tapi Dia
juga bilang...." Lia cepat-cepat memotong sambil menatap sahabatnya dengan
iba. "Kalau kita harus mencari dan mengetuk pintu, begitu kan, Nay?"
Naya menatap
dengan matanya yang bertelaga. "Tuhan kan, Maha segala Maha, Lia,” Naya berucap
dengan suara patah. "Dia akan mengabulkan apa saja yang kita doakan,
bukan?"
“Yak, tentu! kamu pasti akan sembuh Nay, dan soal Reza Ibu
pasti ngerti kok, tak usah dipikirin” menenangkan Naya.
*******
Naka tinggal di sebuah kost sederhana, tidak
jauh dari Hutan Pinus Mentaos yang terkenal dengan kesejukan dan panorama hutan
yang sangat menyergarkan itu. Sudah hampir 3 tahun sejak pertama kali ia datang
dari kota Rantau, Kabupaten Tapin dan memutuskan melanjutkan studi di SMA Banjarbaru,
tempatnya menuntut ilmu sekarang. Sementara malam itu di dalam kamar kostnya, ia
sedang mengerjakan tugas ditemani Adit, sahabatnya yang hampir saban malam nongkrong di kostnya.
”Akhirnya selesai
juga,” digerakannya kepala, tangan dan pinggul ke kanan ke kiri. “Udah jam
11 aja,“ dilihatnya jam dinding di kamar.
“Eh sisanya aku nyontek dong, Ka.
Pikiranku lagi mumet, jadi susah mikir,“ kilah Adit.
“Kebiasan
kamu, lagian kalau gak mumet juga biasanya kayak
gitu, kan?“
“Iya deh,“ diambilnya buku Naka.
"Dit, mau minum
kopi gak?"
"Oh,
tentu, kalau kopinya Cappuccino!" ujar cowok itu bergurau, sok glamor.
Naka tertawa sambil
melempar handuk ke badan kawannya itu. "Gayamu! seperti anak tajir saja.
Padahal, biasanya juga minum kopi tubruk. Kopi hitam kampung, tanpa gula pula!"
cetusnya. Adit tertawa terbahak.
“Dit, aku mau
cerita nih,”
“Cerita aja bos, seperti
biasa aku akan selalu mendengarkan setiap bait-bait ceritamu,“ sembari menyalin
tugas dari bukunya Naka.
“Halah, bahasamu Dit. Jadi gini, aku kan
tadi gak les karena nemenin Naya di kosnya dan dia tuh banyak
cerita-cerita…..,” belum selesai Naka berbicara, seketika Adit memotong. “Berani
banget kamu, dia kan udah punya pacar, mana begitu katanya posesif pula!“
“Aku kan cuman
jenguk teman yang sakit, apa itu salah?“.
“Iya gak juga sih, tapi pacarnya ada di sana?“
“Gak tuh, dia kan
udah putus ama pacarnya,“
“Putus? kok bisa?“
“Iya bisalah
namanya orang pacaran, kalau udah gak cocok salah satu jalannya ya putus,“
“Oh gitu ya, maklum
aku kan jomblo,“ menggaruk-garuk kepala.
“Nulisnya emang cepat atau
kebetulan pas lagi nyontek aja nih,” sindir Naka.
“Wah segitunya, bentar
lagi, Bu!”
“Aku duluan tidur,
Dit. Capek seharian, aku berdoa semoga Tuhan mempersatukan aku ama Naya
nantinya, Amiiiiin.“ ucap Naka sambil membayangkan wajah Naya.
"Tapi di
samping berdoa, kita dituntut untuk berusaha juga, kan? Ora et labora. Lalu Ia
akan menyertai usaha kita. Begitu logikanya, kan?" timpal Adit.
"Yaahh....”
mendesah dan kembali bangun. Disimpannya seulas senyum samar-samar di balik
bibirnya. "Aku gak berani, Dit," katanya dengan suara setengah putus
asa. "Aku kadang suka membayangkan, Naya akan menolakku. Atau menertawakan.
Atau menceritakan ke lainnya bahwa ada seorang cowok yang tak tahu diri yang
mati-matian mencintainya. Dan ia tidak pernah mencintai cowok bodoh itu,"
"My, God!"
Adit memekik dan geleng-geleng kepala. “Belum juga dicoba udah nyerah, hampir
tiap pekan kamu itu keluar masuk hutan menyelami alam, naik turun gunung,
kadang bergerombol, kadang sendirian, kamu tetap pergi walaupun gak tahu bahaya
apa yang mengintai di sana, tapi untuk urusan menyatakan perasaan? takutnya
bukan main, mental macam apa itu!” ucap Adit ketus. Naka hanya terdiam
mendengar omelan sahabatnya. “Kalau kamu gak pernah bilang, mana bisa Naya tahu
dan kamu juga mana bisa tahu perasaan Naya,”
Sejenak kemudian
ia berpikir, Adit benar. Mungkin ia terbawa oleh perasaan takutnya sendiri. Jika
ia membungkus perasaan cintanya rapat-rapat dengan selimut kebisuan, bagaimana
mungkin Naya akan tahu tentang perasaannya? Berharap angin yang bertiup
berbisik ke telinga Naya terlebih dahulu mendekatinya?
******
Hari ini Naya lagi-lagi tidak turun sekolah, ini hari ketiga ia
tidak dapat mengikuti pelajaran.
“Gimana nih bro, kayaknya
Naya masih belum bisa turun, mau jenguk ia lagi?“
“Apa aku harus
jenguk ia lagi, Dit?“ balik nanya.
“Iya, jenguk aja, kesempatan
buat kamu bisa deketin, mumpung baru putus, hibur aja ia biar senang, Ka,” menepuk-nepuk
bahu Naka.
“Apaan sih, itu namanya nyari
kesempatan dalam dana umum,”
“Emang
you kira monopoli,” sahut Adit.
Bel tanda masuk pun berbunyi untuk memulai pelajaran Bahasa Inggris pada
jam pelajaran pertama. Hari itu di sekolah, selama jam pelajaran Naka
tidak bisa konsentrasi karena terus kepikiran Naya. Dan kemudian
selang beberapa lama bel pulang pun berbunyi. ”Hari ini les gak, Nad?“ tanya
Naka kepada Nadin.
“Hari ini les Matematika jam 15.00, Ka.“
“Oh gitu ya, makasih, Nad.”
“Oke deh,”
“Les gak ya, apa aku
jenguk Naya aja?” gumam Naka
“Hei ngapain bengong, ikutan dong!” tiba-tiba Mitha muncul dari belakang.
“Eh, kamu Mit, doyan
banget sih bikin orang terkejut, hampir aja nih jantung copot,”
“Sorry deh, abisnya
bengong aja, mikirin siapa sih?
“Mau tau aja,”
“Ya udah, lanjutin
aja bengongnya, aku duluan,“ berlalu pergi.
Hampir
seluruh siswa XII IPS turun ketika les kecuali Naya. Sambil
bersenda gurau mereka masih menunggu Bu Rieke, guru les matematika mereka di sekolah.
“Bu Rieke belum datang juga ya, Ka?“
“Kebetulan aku gak
serumah ama Bu Rieke tuh jadi aku gak tau, Dit.“
“Kalau gak tau, jawab
aja gak tau, pake muter-muter segala, sekalian buat
paragraf,“ seolah merajuk.
“Lagian, mana ku tau, masih
aja ditanya,“ Naka berkilah.
Dari
bangku samping belakang Risa memanggil Naka. Melihat Risa memanggil Naka, Adit
berbisik, “Bisnis apalagi neh temanku ama si Risa?” “Ada deh,” seraya
menghampiri Risa.
“Gini,
aku dapat pesan dari Naya katanya mau gak kamu datang ke kosannya?“ ucapnya pelan.
“Sekarang?”
“Kalau kamu gak keberatan,”
“Emang kenapa? apa Naya
sakitnya nambah parah, Cha?“
“Untuk lebih jelas
baiknya kamu datang aja ke kostnya,“
“Kalau itu
mintanya oke deh, bilangin aku izin ada urusan mendadak atau apalah,“
“Gampang.” Naka pun bergegas
keluar kelas. “Hei, mau kemana, Ka?“ tanya Adit setengah berteriak. “Ada urusan
mendadak! Nanti tasku kamu yang bawa, Dit.“ Adit mengacungkan
jempolnya.
******
Sesampai di depan kost, Naka melihat Naya yang tersenyum duduk di
ayunan, dengan memakai sweater
berwarna putih dan sebuah syal biru gelap melingkar di lehernya.
“Gimana keadaanmu, Nay?”
“Aku gak papa, cuman pagi tadi pusing
banget jadi gak bisa turun,”
“Terus sekarang?”
“Udah mendingan kok, kebetulan tadi
lama telfonan ama Ibu juga, kangen soalnya,” ucapnya. Naya anak tunggal, Ibunya
masih tinggal di Jogja, sementara Ayahnya sudah lama meninggal dunia waktu ia duduk
di bangku Sekolah Dasar.
“Ibu
kamu sering ke sini, Nay?”
“Kadang dua minggu sekali, kadang
sampai satu bulan baru datang, tapi katanya besok mungkin ke sini, soalnya
masih sibuk urusan pekerjaan di Jogja,”
“Ooh, gitu, apa lebih baik
kita
ngobrolnya di dalam aja, takutnya entar masuk angin kamu, Nay“ udara sore
seperti lebih dingin dari biasanya.
“Aku gak papa kok, Ka,”
“Oh
ya, kata Risa kamu menyuruhku kesini,”
“Iya, Ka.” dengan
tatapan matanya yang sendu.
“Ada
apa, Nay?”
“Gak
papa, cuman mau ngobrol aja,” seraya tersenyum.
“Hmmmm, kalau gitu aku mau ngomong
boleh, Nay?”
“Itu kamu udah ngomong.” Naya pun
ketawa.
“Iya
juga ya,” Naka mulai salah tingkah, digaruknya kepala walau sebenarnya tidak
sedang gatal. “Aku mau bilang sesuatu hal tentang ……,” jantung Naka mulai berdebar kencang.
“Tentang?”
“Kalau
aku selama ini suka ama kamu, Nay” Naka pun berterus terang akan perasaannya
pada Naya. “Jujur, aku sangat mencintai kamu, Nay. Rasa ini sebenarnya udah lama ada dan maaf baru bisa
kuungkapkan sekarang.
Ketika aku jatuh cinta pertama kali ama kamu, aku merasa malu
terhadap semua, merasa tidak pantas untuk mendapatkanmu. Itu adalah cinta pada
pandangan pertama, pandangan terakhir, dan pandangan selamanya, itulah yang
dapat aku katakan tentang cinta.“ ucapnya.
“Kamu masih ingat Risa
pernah bilang ama kamu kalau cintaku ama Reza cuman setengah hati?” tanya Naya.
“Masih, tapi waktu itu pas
ku nanya Risa gak mau kasih tahu, rahasia katanya,“
“Apa kamu mau tau setengahnya ke mana?” menatap
Naka tajam.
“Ke mana emangnya?“
“Ke kamu, Ka. Dan sekarang
udah sepenuhnya, sepenuh hati dan sepenuh jiwa.“ jawab Naya. Kali ini ada yang
menggemuruh di balik dada Naka, dan sesaat kemudian dia serasa terbang tak
menginjak tanah! Jiwanya sudah mengambang ke awan-awan nan putih di langit.
Terus melanglang di antara kumpulan gemintang yang tengah bersinar indah!
“Yang benar, Nay?“ seakan tidak
percaya.
“Iya aku juga sangat
mencintai kamu, Ka. Bukan hanya karena beberapa hari ini kita sering
ketemu atau karena kamu membantuku tapi aku sudah punya rasa sejak lama, setiap aku
menatap kamu dan tatapan kita berbenturan, aku hanya bisa tertunduk tersipu malu.
Namun hatiku bingung yang dihadapkan antara dua pilihan, aku takut
membuat mamaku bersedih atau memilih cinta sejatiku yang ada di kamu. Sampai pada
akhirnya aku
semakin mencintaimu, karena aku telah percaya kamu menyukai aku apa adanya, dan
bukan karena hal lain.“
“Lalu, sekarang gimana dengan
mama kamu, Nay? “
“Sekarang aku
sangat lega karena sudah cerita semuanya ama mama dan aku udah gak
ada hubungan apa-apa lagi dengan Reza.“
“Tapi, apa mama kamu nantinya merestui
hubungan kita?“
“Kata mama, beliau menyerahkan
semua keputusan kepadaku, selama itu bisa buat aku bahagia maka mama pun ikut
bahagia. “
“Syukurlah,”
“Sekarang temenin
aku mau gak, anggap aja ngedate pertama kita, Ka,“
“Tapi kamu kan lagi
sakit, takutnya kesehatanmu tambah memburuk,“ kata Naka memegang
tangannya Naya.
“Aku gak papa kok, percaya
deh,“
menyakinkan Naka dengan sebuah kedipan mata.
“Kalau gitu kemana aja kamu
mau akan aku temenin,“ dengan nada semangat.
“Naaah gitu dong,“ kata Naya. Mereka pun beranjak
pergi dengan motor Naka.
“Oh ya, by the way emangnya kita mau kemana, Nay?”
“Ke Tahura aja, gimana?“
Berpaling ke belakang “Ngapain kita ke sana, Nay?“
“Katanya terserah,“ mempererat
pegangan tangan.
Naka tertawa. Naya tertawa. Awan
yang menaungi mereka berdua pun seolah tersenyum.
*******
Waktu
menunjukan pukul 5 sore ketika mereka sampai di kawasan tengger Taman Hutan
Raya (Tahura) Sultan Adam. Di tempat yang ditumbuhi pohon-pohon yang rindang dan bermekarannya bunga-bunga
yang indah.
“Udara di sore hari sejuk juga
ya, Ka,“ kata Naya seraya melebarkan kedua tangannya dan mengibas-ngibas seolah mau terbang. Naka hanya
tersenyum melihat tingkah Naya, lalu mereka pun duduk di sebuah shelter. Hari itu keadaan cukup sunyi,
karena biasanya orang berdatangan waktu akhir pekan. Pohon yang rindang, angin yang
berhembus sepoi-sepoi, suara burung yang saling sahut menyahut, rasanya semesta
hadir untuk menyatukan mereka.
“Ada satu kata yang bisa membebaskan kita dari segala
beban dan sakitnya kehidupan, Ka?“
“Apa itu, Nay?”
“Kamu, Ka! tersenyum , “Thank you for always being my rainbow after
the storm, Ka.” dipeluknya erat wanita itu, seseorang yang dicintainya
selama ini yang bahkan dia bermimpi pun tidak berani untuk memilikinya. “I love you every step of the way, Nay”
“And thank you, for making me feel
like the most important woman in the world,” berkaca-kaca.
“Aku janji gak akan
membuat seorang Naya sedih selama hidupku!“ ucap Naka sambil memegang erat tangan Naya.
“Walaupun nantinya waktu
kita gak akan lama?“
“Kamu ngomong apa sih, Nay? aku
sering dengar kutipan kaya gini kalau “Love is not
about how many days, weeks or months we've been together, it's all about how
much we love each other every day.” Aku akan selalu
ada disampingmu sampai kamu sembuh total dan menjalani hari-hari kita yang baru, This
is all I want to do with you, itu jugakan impianmu, Nay?“
Mengangguk pelan.
“Tapi, entah
mengapa aku sekarang merasa…,“ kata Naya belum sempat meneruskan kata-katanya dipotong
Naka. “Kenapa, Nay?“ kata Naka panik.
“Sangat bahagia!“ tersenyum
manja.
“Kalau gitu, aku
apalagi,“
“Ujian Nasional
makin dekat, udah siap kamu, Ka?“
“Harus siap selalu, aku
yakin kita akan lulus dan setelahnya kamu akan kemoterapi, kemudian kamu
sembuh dan kita melanjutkan studi di kampus yang sama, lulus kuliah dan pada harinya nanti kita akan
menikah, memiliki dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan, gimana impianku, hebat bukan?“
“Hebat, tapi
gimana kamu seyakin itu?”
“Asal ada usaha
disertai doa dan tuhan berkehendak semua dapat
terjadi, aku yakin!“
“Seberapa besar
cintamu, Ka?“ tersenyum seolah menguji.
“Kalau aku balik
nanya?“
“Seratus kali lebih
besar cinta kamu.
“Kalau aku
seribu kali lebih besar cintaku pada seorang Naya beserta kelipatan -kelipatannya, aku akan
selalu ada untukmu, Nay.” Kemudian Naka menyanyikan lagu can't
help falling in love nya Elvis Presley.
Wise men say only fools
rush in
But I can't help falling in love with you
Shall I stay?
Would it be a sin
If I can't help falling in love with you?
But I can't help falling in love with you
Shall I stay?
Would it be a sin
If I can't help falling in love with you?
Dedaunan pohon
yang tertiup semilir angin dengan perpaduan langit biru dan awan putih menjadi
sebuah penglihatan yang memanjakan mata sekaligus juga akan membuat jiwa tenang.
Take my
hand, take my whole life too
For I can't help falling in love with you
For I can't help falling in love with you
Sambungnya
seraya tak henti-hentinya tersenyum melihat Naka. “Aku sayang kamu, Ka.“ seraya
mengeratkan pelukan Naka.
“Aku juga sangat
sayang ama kamu, Nay. Dan aku akan menjagamu selalu, aku gak mau kehilanganmu. Ketika kumulai menyadari
memikirkan kamu dan kumulai mengira-ngira berapa lama kamu ada di pikiranku.
Kemudian aku tersadar, Nay. Sejak aku melihat kamu, saat itu juga kamu selalu
berada di dalam pikiranku. Dan kupercaya, cinta kita akan abadi,“
“Abadi sepanjang
masa,“ tambah Naya.
“Kalau bersama
kamu penyakit ini rasanya terasa hilang karena telah dilenyapkan oleh perasaan bahagia, Ka.” ucapnya.
“Aku ingin tidur di pangkuanmu dan bila matahari udah mau tenggelam bangunin aku
ya,
Ka. Aku mau lihat sunset di atas sini bersamamu,“ seraya perlahan memejamkan
matanya.
Direngkuhnya tubuh lampai itu ke dalam
pelukan. Gadis itu tersenyum bahagia, merebahkan kepalanya di bahu Naka. “Tidurlah dan aku akan
selalu menjagamu, bagiku kamu lebih dari sang rembulan yang menerangi
gelap gulitanya malam dan lebih dari keindahan oase di gurun pasir yang gersang,
you are my angel, my
life, my entire world, you're the one that I want, kamu cintaku
dan belahan jiwaku, dulu, sekarang sampai selamanya kamu akan tetap menjadi
candu akan cintaku yang teramat besar padamu, Nay”
Tak hanya kesejukan hamparan bukit-bukit dan pepohonan di
bawah tengger Tahura Mandiangin yang bisa dinikmati. Ada setangkup keindahan
semburat jingga dan lembayung kala senja menjelang. Satu di antaranya
adalah pertunjukan matahari yang kembali ke peraduannya.
“Bangun Nay, mataharinya
udah mau tenggelam, katanya mau lihat sunset,“ disentuhnya
pipi Naya tapi ia tidak bangun-bangun dan masih erat
dipeluknya.
“Naya………, Nay,” digoyang-goyangkannya tubuh Naya.
“Bangun,
Nay!“ tangis Naka pun pecah seketika, ia menangis
sejadi-jadinya karena tahu Naya sudah terkulai tak berdaya, Naya telah meninggalkannya
untuk selamanya. Naya meninggalkan Naka disertai tenggelamnya sang surya yang ikut
berduka menyertai jiwa yang tenang menghadap sang pencipta.
******
Besoknya Naya dikebumikan, semua siswa-siswi kelas XII IPS hadir, pun
beberapa siswa dari sekolah beserta Dewan Guru. Sementara Naka terus menyeka air mata
yang terus membasahinya.
“Ka, ikhlasin
aja kepergian Naya biar ia tenang dan moga ia diterima disisi Allah,“ Risa memegang bahu
Naka.
“Iya nak Naka, biar Naya
tenang di sisi sang maha kuasa, ibu sebenarnya juga sangat sedih kehilangan satu-satunya anak ibu yang sangat
ibu sayang, tapi ibu sadar suatu saat ia mungkin akan meninggalkan ibu,“ kata
ibunya Naya sesekali
menyeka air mata.
“Iya Bu, aku pun sudah
ikhlas, ternyata pertemuan kemarin sekaligus perpisahan dengan Naya,”
“Ibu udah
ikhlasin Naya, Ibu tidak
punya firasat apapun ketika ia nelpon dan bilang minta maaf karena karena belum
bisa untuk membahagiakan Ibu sepenuhnya. Ia juga bilang kalau sekarang ia sangat
bahagia dan ingin bersama seseorang yang dicintainya itu,” ditatapnya Naka dengan haru.
“Nay, kamu sekarang
udah gak sakit lagi, moga kamu bahagia di sana, aku tidak akan melupakanmu, kami tidak akan melupakanmu, tidak akan
pernah!” terus memegangi batu nisan. “Aku mencintaimu, Nay!” batinnya
bersuara seakan masih tidak rela melepasnya.
Kini Naya pergi dengan tenang diantarkan oleh orang-orang yang
dicintai dan mencintainya, ia telah mendapatkan cinta sejati yang telah lama
diimpikannya. Naya berharap pada Naka agar dapat menjalani hidup walaupun
tanpa ia disamping Naka.
P.S
Kebetulan file tulisan cerpen ini
saya dapat di dalam folder laptop yang lama. Cerpen ini mengalami sedikit
perubahan alur cerita, setting dan penambahan beberapa tokoh dari naskah awal.
Cerpen ini pertama kali saya tulis pada tahun 2011, waktu itu ceritanya mau ikutan
lomba menulis cerpen yang diadakan oleh Radar Banjar, namun tidak jadi dikirim
dikarenakan belum juga selesai tulisannya hingga sampai akhir batas waktu
ditentukan.
0 komentar:
Posting Komentar