Jumat, 05 Februari 2016

Nous avons le choix, Bleus ! (Kita Punya Pilihan)


Seni..
Tanpa seni dunia terasa tak berada
Sebab Tuhan menciptakan dunia dengan aneka warna
Keringat adalah sebuah ekspresi
Ekspresi dari kerja keras di lapangan
Jauh di sana 22 gladiator lapangan mulai bersiap menunjukkan tajinya
Tapi jangan lupakan pemain pasif ini
Yaitu penonton
Meskipun pasif, tanpa penonton seni mengelola bola ini terasa hampa
                                                                                                              
Sepakbola sebenarnya tidaklah terlalu asing untuk saya, karena sedari kecil sudah sering main sepakbola di padang gersang akibat kemarau, namun ketika memutuskan menyukai atau mendukung sebuah tim kesebelasan sepakbola baru terjadi pada saat usia menginjak remaja.

Semula saya tidak terlalu mengetahui klub-klub bola pada masa itu, yang saya ingat ketika euforia Brazil mengalahkan Jerman di final piala dunia 2002 yang berlangsung di Korea-Jepang dengan skor dua nol hasil gelontoran si plontos berambut cepak Ronaldo Nazario da Lima. Dan yang kita ketahui bersama pada medio 2000-an liga italia masih berada di atas liga spanyol apalagi liga inggris. Klub-klub macam juventus, inter, AC milan, Lazio, Parma terdengar lebih jumawa dibanding Chelsea, Manchester City maupun Tottenham Hotspur. Begitupun di ranah eropa dimana All Italian Final tercipta di Liga Champions ketika dua rival di seri-A bertemu antara AC Milan vs Juventus yang dimenangkan oleh Rossoneri lewat drama adu penati.

Ketika banyak orang yang mendukung tim yang memang mempunyai sejarah bergelimang gelar saya memutuskan menyukai atau ngefans  kepada sebuah klub yang baru memulai sejarah atau bisa dibilang klub yang lagi berkembang. Pada tahun 2003 Chelsea FC diakuisisi oleh taipan asal Rusia, Roman Abrahamovich dan kemudian melakukan perubahan besar-besaran pada skuad yang berdiri pada tahun 1905 itu. Dimulai dengan menukar beberapa pemain yang bisa menyeimbangkan skuad untuk mengarungi Liga inggris, namun titik perubahan sebenarnya ketika pelatih Claudio Ranieri digantikan oleh Jose Mourinho. Dengan dana yang lumayan besar maka The Roman Emperor (begitu julukannya)  menguncurkan jutaan dolar dana untuk menyokong perubahan yang jauh lebih dapat menciptakan hasil. Dengan perubahan yang seperti itu jadilah Chelsea menguasai Liga Primer Inggris selama 2 musim beruntun sekaligus membuat mereka menjadi salah satu anggota Big Four bersama Manchester United, Arsenal dan Liverpool.

*****
Pada suatu waktu saya masih ingat jelas ketika dipekan perdana Liga Primer Inggris, Chelsea mengalahkan Manchester United dengan skor 1-0 di stadion Stamford Bridge, kebetulan pada saat itu usia saya baru menginjak akil baliq. 

Bisa dibilang itulah titik awal saya menyukai lebih intim  pada sebuah klub sepakbola. Momen yang membuat saya selalu meluangkan waktu di akhir pekan guna menonton siaran Liga Primer Inggris yang waktu itu disiarkan oleh TV 7, laga demi laga selalu saya tonton dan puncaknya dipekan ke-35 bertepatan tanggal 30 April 2005  mereka mengalahkan Bolton Wanderers dengan skor 2-0 hasil gelontoran brace Frank Lampard sekaligus mengunci gelar juara Liga Primer Inggris musim 2004-2005 setelah 50 tahun lamanya pasca tahun 1955.

“This is the start of a process not the end. I want more for me and Chelsea. begitu kiranya kata Jose Mourinho setelah merengkuh gelar Liga Primer Inggris pertamanya.
Chief Editor Pandit Football Zen Rachmat Sugito mengatakan "Ada batas sumir antara ingatan dan kenangan. Kadang kala keduanya tidak bisa dibedakan, kadang kala ingatan dan kenangan saling menelikung." Tentu dalam satu dekade terakhir dengan pelbagai macam gelar yang mereka raih faktor Jose mourinho tak dapat dipisahkan, tidak ada manajer selama menukangi chelsea yang ketika tim nya meraih hasil buruk pun mereka tetap bilang , “Jose one of us” . seakan mereka yang ditinggalkan pada periode tahun 2007 tidak mau lagi ditinggalkan untuk kedua kalinya. Namun apa daya sepakbola kadang kejam terlebih di tanah britania raya, kebersamaan Mou bersama Chelsea pun lagi-lagi harus kandas di pertengahan musim 2015-2016.

Ketika melihat momen itu saya teringat kisah mengharukan perpisahan sang penyair kenamaan Jalaludin Rumi dengan sahabatnya Syamsudin atau biasa dikenal dengan nama Syams. Rumi mengungkapkan adanya ketakutan atas kecemburuan bahwa teman-teman baru akan menggantikannya dalam hati Syams dan mengingatkannya untuk menghargai “ruang” di antara dua orang. Dalam Diwan-i, Rumi menulis sajak yang melankolis dan terkesan posesif terhadap sahabatnya itu,

Kudengar kau akan segera pergi, janganlah
Jangan berikan cintamu pada orang baru
Meski disini kau merasa asing, ketahuilah kau tak pernah diasingkan
Apapun luka yang hendak kau keluhkan, jangan
Jangan menyelinap dariku atau mencari orang lain, memandang orang lain pun tak perlu

Mungkin secara sadar atau tidak, fans Chelsea menurut pada perkataan Bill Shankly, Pelatih Liverpool di medio  1959-1974 , dia mengatakan  "If you can't support us when we lose or draw don't support us when we win"

Timbul pertanyaan kenapa Jose Mourinho bisa begitu dicintai oleh fans chelsea? Tentu banyak alasan yang menyertainya selain gelar-gelar domestik yang amat lama tidak bisa diraih kemudian bisa dia persembahkan, Mou juga selalu melakukan pendekatan dan komunikasi yang intensif kepada para pemainnya. Inilah yang jarang dilakukan oleh pelatih-pelatih lain. Melalui pendekatan dan komunikasi yang intensif tersebut, para staf manajemen,dan pemain, olehnya fans pun ikut memiliki loyalitas yang tinggi terhadap dia.
Kelebihan lain Mou adalah kemampuannya menerapkan taktik berbeda untuk lawan berbeda untuk meraih kemenangan. Bagi para pemain kemampuan yang dimiliki Mou ini sangat mengagumkan. Dengan kemampuan menganalisis lawan yang sempurna, para pemain pun dengan mudah menerapkan taktiknya. Dia juga bisa membangun mental juara di benak para pemainnya.

*****
Dalam tradisi filsafat Barat hingga Rene Descartes. Filsuf ini menyusun dikotomi: res extensa (yang berpikir) dan res cogitans (yang dipikirkan). Lewat diktum terkenalnya, “saya berpikir maka saya ada” (cogito ergo sum), orang Prancis yang berjasa besar dalam terbentuknya tradisi filsafat modern itu secara tegas mementingkan intelegensia dan semua aktifitas yang berkaitan dengan proses berpikir. Prinsip yang Jose Mourinho pegang ketika dia mengatakan “ When I go to the press conference before the game, in my mind the game has already started”. Sebuah penggambaran antara ambisius, karakter dan kepercayaan diri penuh.  Jadi wajar ketika Mou memulai konferensi pertamanya d inggris dia mengatakan “Please don’t call me arrogant, but I’m European Champions dan I think I’m a special One.” Dengan kata lain dia seolah mengatakan keberadaan dia akan mengubah peta persaingan perburuan gelar liga dan dikemudian hari dia buktikan omongannya tersebut 

Dalam perkembangannya tentu tidak selalu sebuah tim berada di top perform namun adakalanya situasi down perform pun juga menerpa sekali waktu, banyak faktor yang bisa membuat sebuah tim menjadi inkonsistensi begitupun yang dialami Chelsea selama dekade terakhir. Diantara faktor perubahan tentu yang kentara ada di kursi kepelatihan, karena manajer atau pelatih bisa diibaratkan seorang head chief yang menentukan segala racikan bumbu yang disemaikannya dan tentu bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Banyak silih berganti sosok pelatih berada di kursi Chelsea dan ada yang menghasilkan sebuah gelar ada pula yang nihil namun dari pelbagai macam perubahan itu telah menjadikan Chelsea bagian dari kemewahan dari suatu liga papan atas yakni Barclays Priemer League.


Menjadi seorang fans bola pada sebuah klub/tim tertentu sejatinya sulit menjadi objektif ketika membicarakan tim sendiri ataupun tim lain, karena kadang menjadi fans sepakbola bukan berbicara tentang ilmu tapi berbicara mengenai sebuah iman. Di Brazil kita sudah sering mendengar bahwa disana sepakbola sudah dianggap sebuah agama sehingga para pendukungnya bersedia siap mati untuk klub yang mereka imani.

Terakhir mengutip perkataan dari legenda brasil Pele, “Success is no accident. It is hard work, perseverance, learning, studying, sacrifice and most of all, love of what you are doing or learning to do”.

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com.com