Seni..
Tanpa
seni dunia terasa tak berada
Sebab
Tuhan menciptakan dunia dengan aneka warna
Keringat
adalah sebuah ekspresi
Ekspresi
dari kerja keras di lapangan
Jauh
di sana 22 gladiator lapangan mulai bersiap menunjukkan tajinya
Tapi
jangan lupakan pemain pasif ini
Yaitu
penonton
Meskipun
pasif, tanpa penonton seni mengelola bola ini terasa hampa
Sepakbola sebenarnya
tidaklah terlalu asing untuk saya, karena sedari kecil sudah sering main sepakbola
di padang gersang akibat kemarau, namun ketika memutuskan menyukai atau
mendukung sebuah tim kesebelasan sepakbola baru terjadi pada saat usia menginjak
remaja.
Semula saya tidak terlalu
mengetahui klub-klub bola pada masa itu, yang saya ingat ketika euforia Brazil
mengalahkan Jerman di final piala dunia 2002 yang berlangsung di Korea-Jepang
dengan skor dua nol hasil gelontoran si plontos berambut cepak Ronaldo Nazario
da Lima. Dan yang kita ketahui bersama pada medio 2000-an liga italia masih
berada di atas liga spanyol apalagi liga inggris. Klub-klub macam juventus,
inter, AC milan, Lazio, Parma terdengar lebih jumawa dibanding Chelsea, Manchester
City maupun Tottenham Hotspur. Begitupun di ranah eropa dimana All Italian
Final tercipta di Liga Champions ketika dua rival di seri-A bertemu antara AC
Milan vs Juventus yang dimenangkan oleh Rossoneri lewat drama adu penati.
Ketika banyak orang yang
mendukung tim yang memang mempunyai sejarah bergelimang gelar saya memutuskan
menyukai atau ngefans
kepada sebuah klub yang baru memulai sejarah atau bisa dibilang klub yang lagi
berkembang. Pada tahun 2003 Chelsea FC diakuisisi oleh taipan asal Rusia, Roman
Abrahamovich dan kemudian melakukan perubahan besar-besaran pada skuad yang
berdiri pada tahun 1905 itu. Dimulai dengan menukar beberapa pemain yang bisa
menyeimbangkan skuad untuk mengarungi Liga inggris, namun titik perubahan
sebenarnya ketika pelatih Claudio Ranieri digantikan oleh Jose Mourinho. Dengan
dana yang lumayan besar maka The Roman
Emperor (begitu julukannya) menguncurkan jutaan dolar dana untuk
menyokong perubahan yang jauh lebih dapat menciptakan hasil. Dengan perubahan
yang seperti itu jadilah Chelsea menguasai Liga Primer Inggris selama 2 musim
beruntun sekaligus membuat mereka menjadi salah satu anggota Big Four bersama Manchester United,
Arsenal dan Liverpool.
*****
Pada suatu waktu saya masih
ingat jelas ketika dipekan perdana Liga Primer Inggris, Chelsea mengalahkan
Manchester United dengan skor 1-0 di stadion Stamford Bridge, kebetulan pada
saat itu usia saya baru menginjak akil baliq.
Bisa dibilang itulah titik
awal saya menyukai lebih intim pada sebuah klub sepakbola.
Momen yang membuat saya selalu meluangkan waktu di akhir pekan guna menonton
siaran Liga Primer Inggris yang waktu itu disiarkan oleh TV 7, laga demi laga
selalu saya tonton dan puncaknya dipekan ke-35 bertepatan tanggal 30 April 2005
mereka mengalahkan Bolton Wanderers dengan skor 2-0 hasil
gelontoran brace Frank Lampard sekaligus mengunci gelar juara Liga
Primer Inggris musim 2004-2005 setelah 50 tahun lamanya pasca tahun 1955.
“This
is the start of a process not the end. I want more for me and Chelsea.” begitu kiranya kata Jose
Mourinho setelah merengkuh gelar Liga Primer Inggris pertamanya.
Chief Editor Pandit Football
Zen Rachmat Sugito mengatakan "Ada batas sumir antara ingatan dan
kenangan. Kadang kala keduanya tidak bisa dibedakan, kadang kala ingatan dan
kenangan saling menelikung." Tentu dalam satu dekade terakhir dengan
pelbagai macam gelar yang mereka raih faktor Jose mourinho tak dapat
dipisahkan, tidak ada manajer selama menukangi chelsea yang ketika tim nya
meraih hasil buruk pun mereka tetap bilang , “Jose one of us” .
seakan mereka yang ditinggalkan pada periode tahun 2007 tidak mau lagi
ditinggalkan untuk kedua kalinya. Namun apa daya sepakbola kadang kejam
terlebih di tanah britania raya, kebersamaan Mou bersama Chelsea pun lagi-lagi
harus kandas di pertengahan musim 2015-2016.
Ketika melihat momen itu
saya teringat kisah mengharukan perpisahan sang penyair kenamaan Jalaludin Rumi
dengan sahabatnya Syamsudin atau biasa dikenal dengan nama Syams. Rumi
mengungkapkan adanya ketakutan atas kecemburuan bahwa teman-teman baru akan
menggantikannya dalam hati Syams dan mengingatkannya untuk menghargai “ruang”
di antara dua orang. Dalam Diwan-i, Rumi menulis sajak yang melankolis dan
terkesan posesif terhadap sahabatnya itu,
Kudengar
kau akan segera pergi, janganlah
Jangan
berikan cintamu pada orang baru
Meski
disini kau merasa asing, ketahuilah kau tak pernah diasingkan
Apapun
luka yang hendak kau keluhkan, jangan
Jangan
menyelinap dariku atau mencari orang lain, memandang orang lain pun tak perlu
Mungkin secara sadar atau
tidak, fans Chelsea menurut pada perkataan Bill Shankly, Pelatih Liverpool di
medio 1959-1974 , dia mengatakan "If you can't support us when we lose or draw don't support us
when we win"
Timbul pertanyaan kenapa
Jose Mourinho bisa begitu dicintai oleh fans chelsea? Tentu banyak alasan yang
menyertainya selain gelar-gelar domestik yang amat lama tidak bisa diraih
kemudian bisa dia persembahkan, Mou juga selalu melakukan pendekatan dan
komunikasi yang intensif kepada para pemainnya. Inilah yang jarang dilakukan
oleh pelatih-pelatih lain. Melalui pendekatan dan komunikasi yang intensif
tersebut, para staf manajemen,dan pemain, olehnya fans pun ikut memiliki
loyalitas yang tinggi terhadap dia.
Kelebihan lain Mou adalah
kemampuannya menerapkan taktik berbeda untuk lawan berbeda untuk meraih
kemenangan. Bagi para pemain kemampuan yang dimiliki Mou ini sangat
mengagumkan. Dengan kemampuan menganalisis lawan yang sempurna, para pemain pun
dengan mudah menerapkan taktiknya. Dia juga bisa membangun mental juara di
benak para pemainnya.
*****
Dalam tradisi filsafat Barat
hingga Rene Descartes. Filsuf ini menyusun dikotomi: res extensa (yang berpikir) dan res
cogitans (yang dipikirkan). Lewat diktum terkenalnya, “saya berpikir maka
saya ada” (cogito ergo sum), orang
Prancis yang berjasa besar dalam terbentuknya tradisi filsafat modern itu
secara tegas mementingkan intelegensia dan semua aktifitas yang berkaitan
dengan proses berpikir. Prinsip yang Jose Mourinho pegang ketika dia mengatakan “ When I go to the press conference before
the game, in my mind the game has already started”. Sebuah
penggambaran antara ambisius, karakter dan kepercayaan diri penuh. Jadi
wajar ketika Mou memulai konferensi pertamanya d inggris dia mengatakan “Please don’t call me arrogant, but I’m
European Champions dan I think I’m a special One.” Dengan kata lain
dia seolah mengatakan keberadaan dia akan mengubah peta persaingan perburuan
gelar liga dan dikemudian hari dia buktikan omongannya tersebut
Dalam perkembangannya tentu tidak selalu sebuah tim berada di top perform namun adakalanya situasi down perform pun juga menerpa sekali waktu, banyak faktor yang bisa membuat sebuah tim menjadi inkonsistensi begitupun yang dialami Chelsea selama dekade terakhir. Diantara faktor perubahan tentu yang kentara ada di kursi kepelatihan, karena manajer atau pelatih bisa diibaratkan seorang head chief yang menentukan segala racikan bumbu yang disemaikannya dan tentu bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Banyak silih berganti sosok pelatih berada di kursi Chelsea dan ada yang menghasilkan sebuah gelar ada pula yang nihil namun dari pelbagai macam perubahan itu telah menjadikan Chelsea bagian dari kemewahan dari suatu liga papan atas yakni Barclays Priemer League.
Menjadi seorang fans bola
pada sebuah klub/tim tertentu sejatinya sulit menjadi objektif ketika
membicarakan tim sendiri ataupun tim lain, karena kadang menjadi fans sepakbola
bukan berbicara tentang ilmu tapi berbicara mengenai sebuah iman. Di Brazil
kita sudah sering mendengar bahwa disana sepakbola sudah dianggap sebuah agama
sehingga para pendukungnya bersedia siap mati untuk klub yang mereka imani.
Terakhir mengutip perkataan dari legenda brasil Pele, “Success is no accident. It is hard work, perseverance, learning, studying, sacrifice and most of all, love of what you are doing or learning to do”.
0 komentar:
Posting Komentar