Selasa, 03 April 2012

Touring to the Loksado

Tersentak ketika aku melihat jam dinding di kamar menunjukan pukul 06.23, dan itu berarti aku hanya punya waktu sekitar 7 menit untuk mempersiapkan segala halnya untuk perjalanan yang jauh hari ini. Hari yang cerah membuat aku semakin bersemangat memulai touring bersama anak-anak BACKPACKER ESCAPE di pagi ini. Perjalanan ini akan menempuh waktu yang cukup lama sehingga aku banyak membawa air minum mineral dan sedikit snack buat di perjalanan.
                Setelah cek  barang perlengkapan di Home Base, tepat pukul 07.00 kami yang beranggotakan 8 orang melaju pelan ke arah Kota Kandangan. Cuaca hari ini sangat mendukung untuk refreshing ketempat yang katanya rawan akan kesejukan. Kami mencoba selalu bersyukur atas apa yang Tuhan berikan termasuk hari ini, karena Dia telah memperbolehkan kami menuju hunian yang sejuk nan prestisius.
               
Memandang tugu dengan harap-harap cemas
Melakukan perjalanan kurang lebih 30 menit setelah lepas dari kota Intan , kami pun singgah dulu di Mesjid sekitar daerah Sungkai untuk “kencing mania”, hal itu disebabkan karena cuaca yang cukup dingin menyelimuti kami semua. Ada dua tempat kami singgahi selain mesjid di Sungkai, kami  juga beristirahat di Mesjid “Dedy Corbuzier” kata temanku di Rantau, Kabupaten Tapin. Ada sesuatu hal yang mengganggu  pikiranku kenapa bisa disebut Mesjid “Dedy Corbuzier, ternyata alasannya kata temanku pintunya bisa terbuka sendiri. Itu bisa terjadi, setelah kita mendekatinya tepat di depan pintu.  Hal itu disebabkan karena ada semacam alat pendeteksi di pintunya sehingga ketika mendekatinya secara otomatis langsung terbuka dengan sendirinya. Untuk mempersingkat waktu kurang lebih 30 menit kami berada di Mesjid tersebut, perjalanan pun kembali dilanjutkan karena ditakutkan ketika sampai disana terlalu siang.
             Perjalanan kali ini mencaluk kantong cukup banyak, akibat beberapa SPBU yang banyak tutup terpaksa kami pun mengisi bahan bakar di pesisir jalan sampai dimana kami finish nanti. Memasuki daerah persimpangan jalan di kota Kandangan, kami sedikit tersendat karena banyaknya mobil yang antre di SPBU. 
Fokus tak jelas kemana
Memasuki jalan yang tidak lagi selebar yang kami lewati sebelumnya, tibalah kami di sebuah tempat yang penuh sejarah di kota itu  yakni, sebuah Taman Makam Pahlawan Kab.HSS. Melihat dan merenung membuat perjuangan mereka di masa lalu seolah terlihat jelas di depan kami. Seperti kata Presiden pertama kita Bung Karno bahwa “Bangsa yang besar ialah bangsa yang masih bisa menghargai para pahlawannya.” 
Santai
Next Step,  Perjalanan menuju tempat tujuan kami masing berlangsung sampai kami melalui jalan yang naik turun dengan daerah pegunungannya yang sangat memukai, sungguh pemandangannya sangat menakjubkan. Beberapa perumahan yang kami lewati membuat kami belajar akan budaya masyarakat sekitar dengan menyapa dan berbicara dengan mereka disana.


                Jalan berliku nan terjal menuju kedalam semakin kami rasakan dengan teriakan-teriakan yang menyuarakan semangat kebebasan diri. Jembatan gantung yang dibawahnya sungai yang airnya sangat jernih  membuat kami terpesona sambil  berfoto sebagai LPJ (Lembar Pertanggungjawaban) ke rumah ketika pulang nanti. Hehehe….

Ehe
  Akhirnya kami sampai pula di tempat yang memakan waktu kurang lebih 4 jam ini. Ya,  daerah wisata Loksado dengan air terjun Haratainya yang menjulang tinggi dan tampiasan airnya yang sejuk. Sebelum mandi, hal yang kami lakukan setiap berada ditempat kunjungan yaitu Hantak Sabumi  dengan menumpahkan seluruh perbekalan kami masing-masing ke wadah plastik berukuran sedang untuk selanjutnya dimakan bersama-sama. Air minum yang habis di botol masing-masing, tak jadi masalah dengan tersedianya banyak air disana. Sesudah  kami semua selesai makan, kami langsung berganti baju untuk selanjutnya mandi di dinginnya air terjun Haratai. Dinginnya benar-benar semriwing.
Kontemplasi bersama alam seraya bersyukur atas segala karunia yang diberikan Tuhan merupakan hal wajib bagi setiap orang yang datang kesana. Panorama alamnya dapat  membuat siapapun merasa betah untuk berada disana. Sekitar pukul 15.00 kami pun semua berpamitan pada alam dan berharap nanti bisa mengunjunginya mereka lagi.
Swafoto
Tujuan kami selanjutnya adalah “Banyu Panas Tanuhi” yang tidak beberapa jauh dari loksado. Sesampai di Tanuhi, aku yang langsung menceburkan diri ke air panas dan kemudian hanya dalam hitungan detik kembali bangkit akibat tidak mengetahui air yang baru diganti sangatlah panas. Walau terkesan bodoh dan ditertawakan orang lain,  aku berusaha tetap cuek dengan kembali bercebur perlahan mendahulukan kaki kanan. Kebetulan pada hari itu tepat air di seluruh kolam diganti dengan arus yang baru, maka secara otomatis kamilah yang pertama merasakan pergantian air di kolam tersebut. Kami berada di Air panas Tanuhi tidak terlalu lama Karena hari sudah mulai mendung,  maka kami putuskan menuju kota Kandangan untuk berkunjung kerumah nenek ku di desa Ulin, Kecamatan Simpur.
Terjun





Disana kami disuguhi hidangan di siang hari yang sangat enak lagi lezat. Walau aku diajak oleh nenekku untuk tetapstay  tapi kawan-kawanku mempunyai kesibukan esok harinya sehingga tidak memungkinkan untuk menginap. Setelah menyantap makan siang bersama kami pun semua berpamitan pulang. Di perjalanan pulang kami santai sejenak bersama warga kandangan lainnya  di bundaran kota Semarak itu. Sebelum benar-benar pulang, kami sempatkan membeli oleh-oleh khas kota Kandangan yakni Dodol kandangan karya ibu Hj.Noorjannah yang sangat terkenal di seantero Kalimantan Selatan. Pagi berangkat dan malamnya pulang, itulah momen sehari yang aku jalani bersama kawan-kawan.
Selow
Jam tanganku menunjukan pukul 22.00 ketika sampai di rumah, sebelum pergi ke alam mimpi terlebih dahulu aku mandi setelah seharian melakukan perjalanan menuju semenanjung kota di Kab. Hulu Sungai Selatan. Aku belajar banyak hari ini, dan alam lah yang mengajari bagaimana cara bersyukur sebenarnya walau dengan jalan yang berbeda. Loksado, satu diantara banyak tempat wisata di Kalimantan Selatan yang tetap eksis sebagai penyeimbang eksotika alam di kota seribu sungai. Tetaplah menjadi kerabat alam karena alam mengajari dan menyatukan kita dengan caranya sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com.com