Aku
tak pernah bermaksud melebihi apa yang aku pahami, melampaui apa yang aku
alami, menghakimi apa yang aku hadapi. Bukan apa-apa, pengalamanku tentunya tak
seberapa dibandingkan sekian peristiwa yang tak mungkin aku jalani semuanya.
Andai
dunia adalah sumur, tak setiap saat aku sempat menimba air di sana. Bahkan, aku
tak cukup mampu melihat jernih atau kotorkah airnya. Aku sering berpikir,
jangan-jangan aku hanyalah orang yang kebetulan mampir bukan karena kehausan,
melainkan karena sedikit paham akan fungsi air dan sumur. Aku menimba dan
menikmati airnya, entah menyegarkan atau justru bikin perut sakit. Aku masih harus belajar tentang maksud dan makna menimba air dari sumur.
Tapi sejujurnya, aku membela apa yang aku suka.
Aku menjalani hidup seperti orang lain
mengalaminya. Juga kebanyakan anak-anak muda yang seusia atau kini adik-adik
angkatan yang lebih muda yang sedang menikmatinya. Yang ingin aku sampaikan
adalah bahwa pola dasar hidup kita ini seragam. Kalaupun ada yang agak berbeda,
aku kira hanya sekedar kombinasi dan variasi biar masyarakat bisa lebih mudah
memilah jenis-jenis manusia yang hidup dalam ruang yang sama. Setiap hari yang
diberikan Tuhan kepadaku adalah ruang untuk aku menghabiskannya dengan nafas
yang juga dihibahkan-Nya untukku. Aku kira orang lain pun demikian. Kita bangun
di pagi hari, melakukan apapun di siang hari hingga malam tiba, dan tidur di
malam hari sambil menunggu Tuhan kembali memberikan esok kepada kita. Begitulah
kira-kira menurut sunatullahnya.
Aku melakukan apa yang harus kulakukan,
begitu pun kira-kira kau dan mereka. Aku berangkat kuliah, kau dan yang lain
pun sama. Jika misalnya aku berangkat kuliah dan ”diatur” oleh dosen, sementara
orang lain misalnya sibuk mengutak-atik komputer dan sibuk membuat desain
konsep entah apa, apakah konsep tentang ’peraturan’ itu jadi berbeda? Aku kira
tidak, kecuali aku menganggap bahwa pekerjaan pokokku adalah tidur dan
berangkat kuliah adalah selingan dari kelelahanku karena kebanyakan tidur.
He..he...
Tapi dari situ juga lahirnya debat kusir soal
banyak hal. Aku pernah bertanya pada temanku, dan dia pun sama bingungnya
dengan aku. Temanku bahkan pernah bilang bahwa kita ini hanya semacam wayang
saja. Aturan kehidupan menggariskan agar kita bersekolah, maka kita
menghabiskan hampir sepertiga usia hidup kita untuk bersekolah. Karena
kabarnya, kalau tidak menuntut ilmu di sekolah, maka kita hanya akan jadi
sampah. Tata tertib hidup menyuruh bekerja, maka kita pun bekerja. Karena konon
menurut aturannya, kalau kita tidak bekerja maka kita tidak bisa mendapatkan
nafkah. Begitu juga dengan kuliah. Semua tertata dengan ritme dan pola yang
sangat jelas, linear, dan tanpa ampun. Kompensasi dan konsekuensi berbaris di
hadapan muka kita. Pilihannya ya atau tidak, itu saja. Keraguan adalah
kekalahan. Berbeda pandangan dan memilih lain tindakan adalah pemberontakan.
Namun, aku justru sering membayangkan agak
nakal: jangan-jangan, karena tatanan yang amat mapan adalah penyebab hidup kita
menjadi ”berantakan” dan ”tidak karuan”. Tentu saja, penilaian ini pun dalam
cara pandang ketertiban menurut tatanan itu. Bukankah kita di ”sekolah” justru
sering mengikuti pelajaran dengan malas-malasan, tawuran, dan lebih memilih
merayu teman-teman perempuan? Pikiran usilku kadang timbul, andai tak
bersekolah mungkin kita malah menjadi ”baik” dan ”tertib”. Rajin bangun pagi,
giat membantu orang tua, sopan kepada sesama, dan taat beribadah pula.
Kadang, aku sering mengira bahwa hidup ini
hanya basa-basi saja, bicara begini terkesan berani dan intelek, ya?he... maafkanlah. Bukan apa-apa, menurutku potensi penyikapan kita atas keadaan
apa pun sebenarnya tak perlu dikaburkan. Tentu saja asal kita siap ditempeli
sekian label ”unik” oleh lingkungan: tukang bantah, tukang protes, orang gagal,
sampah publik, gila, dst.
Aku, misalnya, tak suka masuk kuliah. Maka
boloslah sesukaku, daripada masuk tapi bosan atau jengah. Soal nilai pasti
minus, biarlah aku yang menanggungnya. Soal dimarahi orang tua, yakinlah bahwa
energi mereka tak akan dihabiskan setiap saat hanya untuk memarahi. Siapkah aku
seperti itu? Siapkah kita seperti itu? Belum tentu jua, he..he..!!
Aku merasa hidup ini terlampau banyak
berbasa-basi. Coba kita lihat sepanjang hidup kita, berapa banyak prosesi
selamatan atau syukuran? Kala resmi pacaran, lalu saling peluk dan menentukan
hari jadian, trus setiap tahun bikin upacara. Mau menikah juga, orang tua sibuk
membuat acara lamaran dan menentukan hari baik untuk pernikahan. Lalu menikah,
masih sederet lagi yang harus dilakukan. Istri hamil, anak lahir, khitanan,
wisuda sarjana....selamatan!! bahkan ketika kita sudah mati pun sederet upacara
perkabungan dilaksanakan. Ternyata kita bekerja cuma hanya untuk membiayai
upacara selamatan.
Pantas saja kalau ada apa-apa dengan
rutinitas yang sudah ditentukan, maka kita pun segera saja berusaha untuk
mengembalikannya ke tempat yang semula tentunya sesuai dengan aturan. Jumlah
bolos kuliah yang kulakukan tertera di buku daftar hadir mahasiswa (absen),
warna tinta merah harus jadi hitam agar bisa lulus mata kuliah, mau makan harus
cuci tangan, mau tidur harus cuci kaki, kuliah tak boleh lebih dari tujuh
tahun, menikahlah sebelum usia 30 tahun. Aku merasa seperti dalam kereta api
menuju stasiun terakhir tanpa bisa sejenak turun untuk kencing. Seorang teman
pun pernah bertanya: adakah yang tahu senggama itu sebaiknya dilakukan dengan berapa
goyangan??
Kini aku mengajak kalian berdiskusi soal
tatanan hidup kita yang terlanjur dikesankan harus tertib dan regulatif
tersebut. Aku punya asumsi yang tentunya bisa dibantah oleh siapa saja. Aku
punya teman laki-laki. Selepas MTsN dulu, dia melanjutkan ke SMA jurusan
ekonomi. Orang tuanya bilang, dia cocok dengan pilihan itu, temanku pun tak
membantah atas asumsi karbitan demikian. Tahukah kalian bahwa temanku tersebut
hanya bertahan selama satu semester dan sesudahnya memilih menjadi
pengangguran, baru pada tahun berikutnya dia masuk SMA dan mulai dari awal
lagi.
Di SMA, dia sampai kelas tiga selalu menjadi
juara kelas dan menjadi satu-satunya siswa dalam angkatannya yang masuk
universitas negeri. Cukup ajaib juga jika dilihat dari latar belakang kacaunya
pilihan studi pada tahun-tahun sebelumnya. Kini dia sudah sarjana, sedang
melamar pekerjaan kesana-kemari. Aku paham bahwa dia punya pilihannya sendiri.
Bahkan, jika dia memilih tak bekerja pun semoga karena dia tahu bahwa konsep
tentang menganggur adalah wacana yang mestinya bisa dia tarik ulur dengan
nalarnya.
Aku kira persoalannya bukan hanya sekedar
soal kesempatan atau lembaran ijazah kelulusan. Aku kira titik tolak pilihannya
adalah soal keinginan subjektif dan keberanian memilih lain tindakan. Konsekuensinya
mungkin berupa penghasilan dan biaya materiil yang dikeluarkan. Taruhlah,
misalnya, telat kaya atau terlambat menikah. Tapi, jika kita tanya apakah dia
bahagia dan dia ternyata menganggukkan kepala, lantas kita mau bilang apa??
Adakah yang tahu persis letak surga itu di mana?
Obsesi dan harapan adalah kelumrahan.
Cita-cita dan kehendak untuk perubahan merupakan keabsahan. Namun, ketika
separuh jalan kalian merasa bodoh dan ingin berbelok arah, silakan. Marilah
merasa senang menjadi manusia, agar hidup tak melulu dikeluhkan. Marilah
menikmati kejutan dan petualangan, agar aku dan kalian tak seperti buah-buah
karbitan yang dipaksa matang demi kepentingan makan orang-orang sialan.
Jika di antara kalian ada yang kecopetan, tak
perlulah melapor ke polisi. Cukuplah dengan berharap agar kita segera dapat
rezeki pengganti yang lebih banyak. Cukuplah dengan mendoakan agar si
pencopet suatu waktu kena sial dan dihajar massa sampai nyaris mati. Yang ingin
aku sampaikan adalah bahwa hidup itu menyediakan sekian juta kemungkinan,
termasuk peristiwa ditinggal pacar. Namun, hidup juga punya pola substitusi,
termasuk ihwal kesedihan yang akan bertukar waktu dengan rasa bahagia. Juga
tentang rasa sakit yang tentu saja akan berhimpitan dengan kesempatan kita
bersenang-senang.
Nah, jika nanti di antara kalian ada yang
ingat bahwa aku pernah meminjam uang kepada kalian, maka jangan tagih aku.
Cukuplah dengan menyindirku dan aku tetap tak akan membayar utangku kepadamu.
He...hee.......ha......ha....
0 komentar:
Posting Komentar