Rabu, 28 Maret 2012

Catatan Dari Orang Setengah Gila

Aku tak pernah bermaksud melebihi apa yang aku pahami, melampaui apa yang aku alami, menghakimi apa yang aku hadapi. Bukan apa-apa, pengalamanku tentunya tak seberapa dibandingkan sekian peristiwa yang tak mungkin aku jalani semuanya.

Andai dunia adalah sumur, tak setiap saat aku sempat menimba air di sana. Bahkan, aku tak cukup mampu melihat jernih atau kotorkah airnya. Aku sering berpikir, jangan-jangan aku hanyalah orang yang kebetulan mampir bukan karena kehausan, melainkan karena sedikit paham akan fungsi air dan sumur. Aku menimba dan menikmati airnya, entah menyegarkan atau justru bikin perut sakit. Aku masih harus belajar tentang maksud dan makna menimba air dari sumur. Tapi sejujurnya, aku membela apa yang aku suka.

Aku menjalani hidup seperti orang lain mengalaminya. Juga kebanyakan anak-anak muda yang seusia atau kini adik-adik angkatan yang lebih muda yang sedang menikmatinya. Yang ingin aku sampaikan adalah bahwa pola dasar hidup kita ini seragam. Kalaupun ada yang agak berbeda, aku kira hanya sekedar kombinasi dan variasi biar masyarakat bisa lebih mudah memilah jenis-jenis manusia yang hidup dalam ruang yang sama. Setiap hari yang diberikan Tuhan kepadaku adalah ruang untuk aku menghabiskannya dengan nafas yang juga dihibahkan-Nya untukku. Aku kira orang lain pun demikian. Kita bangun di pagi hari, melakukan apapun di siang hari hingga malam tiba, dan tidur di malam hari sambil menunggu Tuhan kembali memberikan esok kepada kita. Begitulah kira-kira menurut sunatullahnya.

Aku melakukan apa yang harus kulakukan, begitu pun kira-kira kau dan mereka. Aku berangkat kuliah, kau dan yang lain pun sama. Jika misalnya aku berangkat kuliah dan ”diatur” oleh dosen, sementara orang lain misalnya sibuk mengutak-atik komputer dan sibuk membuat desain konsep entah apa, apakah konsep tentang ’peraturan’ itu jadi berbeda? Aku kira tidak, kecuali aku menganggap bahwa pekerjaan pokokku adalah tidur dan berangkat kuliah adalah selingan dari kelelahanku karena kebanyakan tidur. He..he...

Tapi dari situ juga lahirnya debat kusir soal banyak hal. Aku pernah bertanya pada temanku, dan dia pun sama bingungnya dengan aku. Temanku bahkan pernah bilang bahwa kita ini hanya semacam wayang saja. Aturan kehidupan menggariskan agar kita bersekolah, maka kita menghabiskan hampir sepertiga usia hidup kita untuk bersekolah. Karena kabarnya, kalau tidak menuntut ilmu di sekolah, maka kita hanya akan jadi sampah. Tata tertib hidup menyuruh bekerja, maka kita pun bekerja. Karena konon menurut aturannya, kalau kita tidak bekerja maka kita tidak bisa mendapatkan nafkah. Begitu juga dengan kuliah. Semua tertata dengan ritme dan pola yang sangat jelas, linear, dan tanpa ampun. Kompensasi dan konsekuensi berbaris di hadapan muka kita. Pilihannya ya atau tidak, itu saja. Keraguan adalah kekalahan. Berbeda pandangan dan memilih lain tindakan adalah pemberontakan.

Namun, aku justru sering membayangkan agak nakal: jangan-jangan, karena tatanan yang amat mapan adalah penyebab hidup kita menjadi ”berantakan” dan ”tidak karuan”. Tentu saja, penilaian ini pun dalam cara pandang ketertiban menurut tatanan itu. Bukankah kita di ”sekolah” justru sering mengikuti pelajaran dengan malas-malasan, tawuran, dan lebih memilih merayu teman-teman perempuan? Pikiran usilku kadang timbul, andai tak bersekolah mungkin kita malah menjadi ”baik” dan ”tertib”. Rajin bangun pagi, giat membantu orang tua, sopan kepada sesama, dan taat beribadah pula.

Kadang, aku sering mengira bahwa hidup ini hanya basa-basi saja, bicara begini terkesan berani dan intelek, ya?he... maafkanlah. Bukan apa-apa, menurutku potensi penyikapan kita atas keadaan apa pun sebenarnya tak perlu dikaburkan. Tentu saja asal kita siap ditempeli sekian label ”unik” oleh lingkungan: tukang bantah, tukang protes, orang gagal, sampah publik, gila, dst.

Aku, misalnya, tak suka masuk kuliah. Maka boloslah sesukaku, daripada masuk tapi bosan atau jengah. Soal nilai pasti minus, biarlah aku yang menanggungnya. Soal dimarahi orang tua, yakinlah bahwa energi mereka tak akan dihabiskan setiap saat hanya untuk memarahi. Siapkah aku seperti itu? Siapkah kita seperti itu? Belum tentu jua, he..he..!!

Aku merasa hidup ini terlampau banyak berbasa-basi. Coba kita lihat sepanjang hidup kita, berapa banyak prosesi selamatan atau syukuran? Kala resmi pacaran, lalu saling peluk dan menentukan hari jadian, trus setiap tahun bikin upacara. Mau menikah juga, orang tua sibuk membuat acara lamaran dan menentukan hari baik untuk pernikahan. Lalu menikah, masih sederet lagi yang harus dilakukan. Istri hamil, anak lahir, khitanan, wisuda sarjana....selamatan!! bahkan ketika kita sudah mati pun sederet upacara perkabungan dilaksanakan. Ternyata kita bekerja cuma hanya untuk membiayai upacara selamatan.

Pantas saja kalau ada apa-apa dengan rutinitas yang sudah ditentukan, maka kita pun segera saja berusaha untuk mengembalikannya ke tempat yang semula tentunya sesuai dengan aturan. Jumlah bolos kuliah yang kulakukan tertera di buku daftar hadir mahasiswa (absen), warna tinta merah harus jadi hitam agar bisa lulus mata kuliah, mau makan harus cuci tangan, mau tidur harus cuci kaki, kuliah tak boleh lebih dari tujuh tahun, menikahlah sebelum usia 30 tahun. Aku merasa seperti dalam kereta api menuju stasiun terakhir tanpa bisa sejenak turun untuk kencing. Seorang teman pun pernah bertanya: adakah yang tahu senggama itu sebaiknya dilakukan dengan berapa goyangan??

Kini aku mengajak kalian berdiskusi soal tatanan hidup kita yang terlanjur dikesankan harus tertib dan regulatif tersebut. Aku punya asumsi yang tentunya bisa dibantah oleh siapa saja. Aku punya teman laki-laki. Selepas MTsN dulu, dia melanjutkan ke SMA jurusan ekonomi. Orang tuanya bilang, dia cocok dengan pilihan itu, temanku pun tak membantah atas asumsi karbitan demikian. Tahukah kalian bahwa temanku tersebut hanya bertahan selama satu semester dan sesudahnya memilih menjadi pengangguran, baru pada tahun berikutnya dia masuk SMA dan mulai dari awal lagi.

Di SMA, dia sampai kelas tiga selalu menjadi juara kelas dan menjadi satu-satunya siswa dalam angkatannya yang masuk universitas negeri. Cukup ajaib juga jika dilihat dari latar belakang kacaunya pilihan studi pada tahun-tahun sebelumnya. Kini dia sudah sarjana, sedang melamar pekerjaan kesana-kemari. Aku paham bahwa dia punya pilihannya sendiri. Bahkan, jika dia memilih tak bekerja pun semoga karena dia tahu bahwa konsep tentang menganggur adalah wacana yang mestinya bisa dia tarik ulur dengan nalarnya.

Aku kira persoalannya bukan hanya sekedar soal kesempatan atau lembaran ijazah kelulusan. Aku kira titik tolak pilihannya adalah soal keinginan subjektif dan keberanian memilih lain tindakan. Konsekuensinya mungkin berupa penghasilan dan biaya materiil yang dikeluarkan. Taruhlah, misalnya, telat kaya atau terlambat menikah. Tapi, jika kita tanya apakah dia bahagia dan dia ternyata menganggukkan kepala, lantas kita mau bilang apa?? Adakah yang tahu persis letak surga itu di mana?

Obsesi dan harapan adalah kelumrahan. Cita-cita dan kehendak untuk perubahan merupakan keabsahan. Namun, ketika separuh jalan kalian merasa bodoh dan ingin berbelok arah, silakan. Marilah merasa senang menjadi manusia, agar hidup tak melulu dikeluhkan. Marilah menikmati kejutan dan petualangan, agar aku dan kalian tak seperti buah-buah karbitan yang dipaksa matang demi kepentingan makan orang-orang sialan.

Jika di antara kalian ada yang kecopetan, tak perlulah melapor ke polisi. Cukuplah dengan berharap agar kita segera dapat rezeki pengganti yang lebih banyak.  Cukuplah dengan mendoakan agar si pencopet suatu waktu kena sial dan dihajar massa sampai nyaris mati. Yang ingin aku sampaikan adalah bahwa hidup itu menyediakan sekian juta kemungkinan, termasuk peristiwa ditinggal pacar. Namun, hidup juga punya pola substitusi, termasuk ihwal kesedihan yang akan bertukar waktu dengan rasa bahagia. Juga tentang rasa sakit yang tentu saja akan berhimpitan dengan kesempatan kita bersenang-senang.

Nah, jika nanti di antara kalian ada yang ingat bahwa aku pernah meminjam uang kepada kalian, maka jangan tagih aku. Cukuplah dengan menyindirku dan aku tetap tak akan membayar utangku kepadamu. He...hee.......ha......ha....

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com.com